Search This Blog

Presiden Tanpa Rakyat

Hasil Sidang Putusan Sengketa Perolehan Hasil Pemilihan Umum (PHPU) Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019, Kamis (27/06/2019). Mahkamah Konstitusi Memutuskan Menolak Seluruh gugatan permohonan dari pihak pemohon.
Share it:
Jihar News,Presiden Tanpa Rakyat
Manzahari, Mahasiswa Fakultas Hukum Unimal Angkatan 2018 
Hasil Sidang Putusan Sengketa Perolehan Hasil Pemilihan Umum (PHPU) Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019, Kamis (27/06/2019). Mahkamah Konstitusi Memutuskan Menolak Seluruh gugatan permohonan dari pihak pemohon.

Dalam hal ini, secara perspektif hukum bahwa putusan Mahkamah Konstitusi bersifat Final dan mengikat, yang pada dasarnya tidak ada upaya hukum lain setelah adanya putusan tersebut dan mengikat untuk seluruh rakyat Indonesia.

Kewenangan MK soal sengketa pilpres diatur oleh UU No.24 Tahun 2003 tentang Mahkamah Konstitusi (UU MK) tepatnya dalam pasal 1 ayat 3 Huruf D.

MK berwenang mengadili pada tingkat pertama dan terakhir yang putusannya : Memutus perselisihan tentang hasil pemilihan umum. Dengan itu, setiap warga negara wajib taat terhadap putusan MK dan menghormati Jokowi-Ma’ruf sebagai Presiden dan Wakil Presiden 2019-2024.

Namun Kalau dilihat sambutan publik terhadap kedatangan Prabowo Subianto (PS) dan Sandiaga Uno di segenap pelosok Nusantara, pada kampanye beberapa bulan yang lalu, kelihatannya Pak Joko Widodo (Jokowi) sudah kehilangan legitimasi. Dalam arti, rakyat dengan jelas dan tegas memberikan pengakuan kepada Pak PS sebagai presiden.

Memang secara de-jure, Pak Jokowi masih berhak duduk di Istana. Tapi, fakta-fakta yang terjadi di lapangan menunjukkan rakyat menghendaki Prabowo sebagai presiden. Dengan kata lain, Prabowo-lah presiden de-facto.

Lihat saja rekaman video atau foto-foto tentang sambutan rakyat ketika Prabowo dan Sandi berkunjung ke ribuan tempat di Indonesia. Tidak pernah sepi. Tidak ada pengerahan. Tidak ada penggiringan. Semua datang menyambut paslonpres 02 itu dengan tulus-ikhlas.

Tidak ada bus mewah yang disediakan untuk datang ke lokasi. Tidak ada nasi kotak. Tidak ada minuman. Tak ada oleh-oleh. Tapi, di mana-mana membludak. Selalu gegap-gempita. Baik untuk Prabowo, maupun untuk Sandi. Lihat saja ketika Prabowo turun ke Ambon. Kota ini pecah. Warga muslim dan non-muslim tumpah-ruah ke jalan-jalan Ambon menyambut dan mengelu-elukan beliau.

Begitu juga ketika Pak PS atau Sandi datang ke Medan, Aceh, Garut, Tasikmalaya, Cianjur, Bandung, Jogjakarta, Madura, Pubalingga, Pekanbaru, Jambi, Dumai, Batam, Bima, dlsb. Selalu penuh sesak. Gemuruh dengan pekikan “Prabowo, Prabowo”. Atau teriakan “Sandi, Sandi”.

Sebaliknya, ke mana-mana Pak Jokowi pergi, panitia penyambutan setengah mati menyediakan ‘massa palsu’ untuk menyambut. Harus disiapkan semuanya. Yang bisa dikerahkan dengan paksa, mereka suruh ikut.

Celakanya, setelah panitia bekerja keras, hasilnya kebanyakan menusuk perasaan. Banyak kursi, ruangan, atau lapangan kosong. Dan yang menyambut di kiri-kanan jalan meneriakkan yel-yel “Prabowo, Prabowo” plus acungan ‘dua jari’.

Miris. Ke mana perginya rakyat Jokowi? Kok sekarang beliau berubah menjadi presiden tanpa rakyat? Padahal, lembaga-lembaga survey menyebut Jokowi unggul besar.begitulah dinamika yang sedang terjadi saat ini di negri berkah Indonesia.

Penulis: Manzahari

Mahasiswa Fakultas Hukum Unimal Angkatan 2018 

Share it:

Opini

Post A Comment:

0 comments: